Tanggal 27 Oktober 2021 setelah selesai breakfast jam 10.00 wita di Hotel NEO + Legian Rombongan berangkat dengan 2 Mobil menuju Tempat wisata Bali Timur. Rombongan yang berangkat hari itu adalah :
Ketum MIO INDONESIA
AYS PRAYOGIE
Sekjen MIO INDONESIA
Frans X Watu
Ketua MIO PROVINSI DKI JAKARTA
IR AGUNG KARANG
Sekretaris 4 MIO PROVINSI DKI JAKARTA
Rika Rachmawati, SE mm
Departemen sosial MIO PROVINSI DKI JAKARTA
Ibu Purnawati Yudha kartika
Ketua Dewan Pakar MIO provinsi DKI Jakarta
Brigjen pol Dr VICTOR PUDJIADI, SpB, FICS, DFM
Ketua Dewan Pembina MIO PROVINSI DKI Jakarta
DR. Anto Suroto, SE, SH, MM
Ketua Dewan Pembina MIO PROVINSI DKI Jakarta
DR. Anto Suroto, SE, SH, MM.
Ibu Lies Nur Fajar Departemen Media Online MIO Jakarta.
Perjalanan pertama adalah mengunjungi Goa Lawah sebuah tempat wisata spiritual yang didalam goa sangat dipenuhi dengan kelelawar. Goa Lawah memang satu obyek wisata yang sangat menarik karena ribuan kelelawar merasa sangat nyaman dan tidak merasa terusik untuk menjadikan Goa Lawah menjadi istana mereka . Suasana teduh masyarakat beribadah dan seakan ribuan kelelawar menjaga masyarakat yang beribadah dengan khidmad.
Perjalanan kedua adalah ke DESA ADAT TENGANAN PEGANGSINGAN sebuah Desa yang dihuni 300 KK warga asli Bali yang seluruh warganya mempunyai keahlian dengan kerajinan Kain tenun ikat khas Bali, melukis di daun lontar dan rumah adat Bali yang dipenuhi dengan ukiran dan patung mini yang sangat arstistik. Wisatawan wajib datang ke DESA ADAT TENGANAN PEGANGSINGAN untuk melihat dan membawa oleh oleh hasil karya seni unik khas Bali di desa ini. Setelah puas melihat dan beberapa anggota rombongan membeli hasil karya lukisan daun lontar yang unik kita melanjutkan perjalanan ke icon pariwisata Karang asem yang penuh sejarah yaitu TAMAN TIRTA GANGGA.
Begitu tiba di Taman Tirta Gangga kami disambut oleh Bapak Anak Agung Ngurah Dharma yang tak lain adalah kerabat dan sepupu dari Ir Agung Karang. Tempat ini adalah tempat bersejarah karena dibangun oleh Raja terakhir Karang Asem yaitu Anak Agung Anglurah Ketut Karang Asem yang tak lain adalah Kakek dari Ir Agung Karang dan juga Anak Agung Ngurah Dharma. Taman Tirta Gangga yang merupakan taman wisata diatas tanah seluas 2 hektar adalah karya dari Raja terakhir Karang Asem dan dibantu arsitek dari Belanda dan Cina dan mengalami perubahan2 untuk mempercantiknya. Pada saat sebelum terjadi musibah Pandemi covid pengunjung terbanyak adalah wisatawan Eropa dan Cina dan rata rata pengunjungnya 1500 sampai 2000 wisatawan dari Eropa dan Cina sedang pengunjung domestik hanya 5%. Sedangkan saat pandemi pengunjung/ wisatawan hanya 100 wisatawan dan palin bagus 200 orang dan itupun 95%wisatawan domestik. Satu keluhan dan harapan dari salah satu Badan pengelola Taman Tirta Gangga yaitu Anak Agung Ngurah Dharma agar PCR sebaiknya ditiadakan karena untuk wisatawan domestik yang menggunakan pesawat bersama keluarganya cukup memberatkan beban biaya bila berlibur ke Bali. Karena aplikasi Peduli Lindungi seakan tidak ada artinyva. Apalagi masyarakat Bali lebih 90% sudah vaksin 1&2. Yang perlu ditekankan Pekamimerintah adalah prokes ketat selama wisatawan berkunjung ke Bali. Demikian tutur Anak Agung Ngurah Dharma menyampaikan apa yang selama ini beliau rasakan agar tempat wisata Taman Tirtagangga kembali bangkit dari keterpurukan karena pandemi yang cukup panjang. Setelah kami rombongan dijammu minum kopi,juice dan pisang gorkami melanjutkaeng oleh Pengelola Taman Tirta Gangga kami melanjutkan perjalanan ke Puri Karangasem. Yang merupakan tempat ibadah para Raja dan tempat istirahat para Raja. Sekaligus Ir Agung Karang melepas rindu ketempat sakral leluhurnya. Tempat ini juga tempat para pejabat/ calon Pemimpin Daerah berdoa memohon doa restu. Setelah kunjungan ke Puri Karang asem kami melanjutkan kujungan terakhir ke TAMAN UJUNG SUKASADA Yang juga merupakan tempat bersejarah seluas 5 hektar yang begitu luas dan disekelilingnya terhampar sungai yang luas bahkan terdapat jembatan dan bangunan ber arstiktur belanda kuno yang masih sangat kokoh diatas sungai dan terdapat foto2 Raja . Satu keajaiban terjadi ketika beberapa meter hampir sampai ke Taman Ujung Sokasati tiba tiba hujan turun deras tapi begitu kami turun mobil tiba tiba hujan berhenti walaupun awan masih tebal dan gelap. Sehingga kami bersama rombongan bisa menikmati keindahan Taman Ujung Sukasada yang 50 % dikelilingi sungai yang indah . Memang kerabat yang mengantar dan menjelaskan tentang sejarah taman ujung Sukasada menceritakan bahwa Raja sangat mecintai Air karena Air merupakan simbol dan sumber kehidupan.
Setelah menikmati perjalanan yang cukup melelahkan tapi sangat menyenangkan. Akhirnya kami kembali menuju ke Denpasar tapi sebelum kembali ke Hotel bersama rombongan mampir menikmati makan serba Ikan Laut khas Bali.
balinews-ukie
0 Comments