Pantau terkini Bali.Denpasar 27 Januari 2022 pewarta mengunjungi kantor PUSPADI BALI dan tempat produksi pembuatan kaki palsu, tangan palsu di jln Bakung no 19 Denpasar Bali (ANNIKA LINDEN CENTER).
Ditemui oleh Bu Putu Yuliani Operation Manager PUSPADI BALI. Bu Putu mengawali pembicaraan mengapa kita berkantor di ANNIKA LINDEN CENTER ? Tempat itu adalah tempat yang difasilitasi oleh Mark Weingard, founder of the INSPIRASIA foundation yang berpusat di Eropa.
Nama ANNIKA LINDEN diambil dari nama kekasih Mark Weingard yang menjadi korban kebiadaban pelaku BOM BALI 1 pada tgl 12 Oktober 2002. ANNIKA LINDEN ketika itu berlibur ke Bali dan bersama teman temannya bersantai di Sari Club Legian Kuta Bali. Saat itu Mark Weingard saat kejadian masih di London dan segera menyusul kekasih yang sangat dicintai. Tapi sangat menyedihkan dengan kabar tragedi 12 Oktober 2002 tersebut Mark Weingard yang segera tiba di Bali beberapa hari setelah tragedi biadab itu sama sekali sampai saat ini tidak menemukan jasad sang kekasih karena mungkin jasadnya telah hancur berantakan. Dan walaupun sudah hampir 20 tahun tragedi berlalu setiap melihat foto kekasihnya Mark tak bisa menahan air matanya karena Sang kekasih sangat baik dan berjiwa sosial serta mencintai sesama tanpa pandang bulu.
Berdiri sejak Januari 2013 Annika Linden Centre yang berkantor di Jalan Bakung no 19 Br Kertalangu Tohpati Denpasar adalah untuk mengenang seorang Wanita yang sangat baik yang merupakan kekasihnya yang tak akan pernah terlupakan.
Setelah dijelaskan latar belakang dari ANNIKA LINDEN CENTRE, bu Putu Yuliani menyerahkan estafet ke Bpk Made Gunung yang merupakan kepala dibidang produksi dan pengadaan alat bantu dan Pak Made Gunung menceritakan ada 3 Yayasan yang ada di Annika Linden Centre ini yaitu YPK (Yayasan Kepedulian Kemanusiaan),PUSPADI BALI dan DNetwork.net.
YPK khusus menangani orang yang mengalami Celebral palsy,stroke dll dengan melakukan pelatihan untuk meningkatkan motorik,fisiotherapy dll. Sedang Puspadi Bali adalah pengadaan dan produksi alat bantu baik untuk anak2,orang dewasa dan orang tua (kaki palsu,tangan palsu) dan kami diajak Pak Made Gunung ke tempat proses produksi tangan dan kaki palsu. Cukup mengejutkan ternyata petugas produksi sebagian adalah penyandang disabilitas ( ada yang lumpuh sejak lahir, tak memiliki tangan sebelah kiri/ kanan, tak memiliki kaki karena akibat kecelakaan) namun mereka semua tetap punya semangat dan hasil karya mereka ternyata cukup sempurna dan bisa dipergunakan oleh orang orang penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan . Cukup detail pak Made Gunung menjelaskan proses pembuatan dan mengajak pewarta mengunjungi satu ruangan keruangan lain.
Dan pewarta sempat menanyakan apakah alat bantu ini diberikan secara cuma cuma/ gratis? Pak Made Gunung mengatakan awalnya iya gratis dan kalo rusak ada penggantian baru gratis juga. Tapi ternyata pemberian gratis itu membuat orang yang kita bantu kurang bertanggung jawab dan tidak merawat dengan baik karena baru sebulan minta ganti karena rusak. Dan saat ini kita berlakukan Donasi bagi setiap orang yang membutuhkan alat bantu. Dan donasi itu sesuai dengan kemampuan mereka dan kalo rusak dan diadakan penggantian mereka melakukan donasi lagi sesuai kemampuan. Dan ternyata dengan cara itu mereka lebih bertanggung jawab dan ikut merawat alat bantu yang mereka peroleh.
Dan pewarta melanjutkan bertemu dengan Bu Putu Yuliani yang sedang mengadakan Task Force diruang pertemuan.
Team Task Force ada 14 orang yang 3x dalam setahun kita selalu mengadakan koordinasi untuk bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Bali untuk alat bantu Kaki/ Tangan palsu disamping pentingnya support Pemerintah terkait.
Kami semua berharap semua kebutuhan alat bantu (tangan dan kaki palsu, kursi roda sesuai ukuran ) mendapat perhatian dari Instansi Pemerintah terkait dan juga uluran tangan masyarakat yang punya kelebihan materi bisa mensupport dalam bentuk materi, alat bantu kursi roda agar bisa memenuhi permintaan dan kebutuhan masyarakat di Bali yang membutuhkan bantuan. Demikian tutur Bu Putu Yuliani. Dan penyandang disabilitas tidak boleh lagi dipandang sebelah mata karena pewarta menyaksikan sendiri mereka lebih tekun dan lebih teliti saat kami di ruang produksi alat bantu. Saatnya kita membantu mereka agar mereka bisa berkarya di Negeri ini dengan keterbatasannya.
panterbali-UQ
0 Comments